bersatu kita teguh... memperjuangkan kehidupan yang lebih layak, berkecukupan memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, serta bermartabat. Mandiri dengan ketrampilan bermusik yang terus menerus diasah hingga tahap maestro.
urun rembuk... buat Hermin, Kurnia dan Pengamen Jakarta
Membaca teks pengantar yang berisi persoalan-persoalan hidup yang dialami pengamen jakarta disatu sisi dan aturan yang diberlakukan oleh pemda dki pada sisi lainnya, itu adalah fakta kehidupan.
Enerji 'Pembrontakan' yang menjadi wacana teman-teman, bagaimana kalau dirubah, tidak keluar tapi kedalam. Enerji tersebut kita pakai tidak untuk mencaci maki sistim dan aparat yang terlibat dalam proses pembusukan rakyat miskin, tapi dipergunakan untuk melawan atas kemiskinan yang kita derita agar kita bangkit menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, orang-orang yang kita cintai dan bangsa indonesia. Dengan begitu enerji yang kita keluarkan lebih bermanfat.
Mengingat persoalan mendasar adalah persoalan ekonomi, mari kita bersatu, komitmen, guyub, membangun perekonomian keluarga dengan cara belajar menjadi pebisnis, dengan modal kecil kita bisa meraih sukses luar biasa. (info lengkap bisa kontak saya)
salam sukses... luar biasa
eko d zenah
0816.136.4145 atau email: edzenah_1959@yaho...
----- Original Message -----
From: Fadli E. Setiyawan
To: mediacare@yaho...
Sent: Tuesday, December 27, 2005 12:59 RogaTMan TaMPubOLon
Subject: Re: [mediacare] Mohon Dukungannya, Pengamen Mau Kongres!!!
Saya mendukung saudara-saudara saya yang mengekspresikan dirinya sebagai pengamen. Sebab, dengan cara apalagi bagi mereka untuk bertahan hidup. Terlebih, dalam melakukan pekerjaannya mereka tidak selalu asal-asalan. Malah keseringan yang saya lihat, merek sangat atraktif dan sangat seni sekali. Selamat buat saudara-saudara semua...
kurnia joedawinata
"..harus kita akui dengan jujur bahwa kegiatan itu juga menjadi andil bagi ketidaknyamanan (mungkin juga ketidak amanan) bagi para pengguna jalan yang lain.."
Justru karena itu sebenarnya mengapa menurut saya kongres ini harus diadakan. Pengamen tidak bisa dengan sembarangan ditangkap dengan alasan ketidaknyamanan. Dilain pihak, pengamen jalanan juga baiknya mempertimbangkan kenyamanan pengguna jalan lainnya. Tapi apakah pemda Jakarta pernah berdialog dengan para pengamen atas masalah tersebut? Saya rasa belum pernah ya? Mungkin karena wadahnya belum ada ATAU memang pemda tidak terbiasa untuk berdiskusi dengan pihak2 yang toh kalau pun ditangkapi ya bisanya paling pasrah.
Transmigrasi? Apa anda pikir transmigrasi dibiayai oleh pemerintah? Dan kalau tidak salah, rata2 pengamen ini juga datangnya dari daerah juga bukan? Lantas kalau memang di daerah kehidupan begitu subur makmur buat apa mereka jauh2 datang ke Jakarta?
"..Atau bereksodus keluar negri menjual keahlian masing-masing.."
Kalau yang satu ini sudah dari dulu dilakukan ya pak? Tapi toh balik2 ke Indonesia baru di airport saja sudah di "palak" (bagus kalau cuma di palak, beberapa bulan ke belakang pernah saya baca di media massa Indonesia tentang sindikat perampok yang menculik dan membunuh para tkw yang baru pulang). Selain itu, apa artinya Indonesia / Jakarta ini cuma milik orang-orang yang mampu saja, dan yang tidak mampu baiknya "hengkang" saja ke luar negri atau ke pulau2 terpencil?
salam
Ni'ang
smut ireng
Sekali lagi saya katakan saya tidak anti ngamen kalau itu sebagai bagian dari kebebasan berekspresi,tapi untuk bertahan hidup apa tidak sebaiknya kita tinggalkan jalanan yang penuh debu dan sangat berpolusi itu dan marilah kita menuju tanah harapan yang lain.Selain tidak baik buat kesehatan kita,harus kita akui dengan jujur bahwa kegiatan itu juga menjadi andil bagi ketidaknyamanan (mungkin juga ketidak amanan) bagi para pengguna jalan yang lain.Salah satu caranya mengatasi masalah itu ya...dengan bertransmigrasi.Masih banyak tanah harapan yang bisa kita garap sesuai dengan potensi dan kemampuan kita.
Atau bereksodus keluar negri menjual keahlian masing-masing.Mulailah berpola pikir menjadi pencipta lapangan kerja dan bukan hanya pencari kerja.
jabat erat
kurnia joedawinata
Pak Semut YTH, sekedar kritik atas statement anda,
"...apa tidak sebaiknya anda melakukan kegiatan yang lebih produktif saja dan mengajak para generasi muda untuk bersikap realistis.."
Ok, reality check then,
- "..Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat penggangguran terbuka (TPT) pada Februari 2005 di Indonesia mencapai 10, 3 persen, lebih tinggi dari Agustus 2004 yang hanya sebesar 9,9 persen.." (check here).
- "..Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak membawa dampak yang
signifikan terhadap perluasan lapangan pekerjaan di Indonesia karena
selama ini pertumbuhan lebih besar didorong oleh konsumsi.Demikian
diungkapkan ekonom dari Bank Pembangunan Asia (ADB), Guntur Sugiyarto.." (check here).
Bukannya sok jadi pembela rakyat kecil, tapi berdasarkan dua kutipan berita yang saya masukan di atas, mustinya Oom semut (dan Bang Yos) bersyukur bahwa mereka jadi pengamen, bukan jadi rampok, preman, atau bagi yang lebih beruntung, pura-pura kerja sambil "ngabisin" harta orang tua (atau negara). Pemda DKI nampaknya hanya perduli kepada warga Jakrta bermobil seperti Oom semut ini.Lagi2, ini tipikal attitude pemerintah (dan masyarakat) kita. Kalau ada masalah, approach yang diambil adalah "sapu debu ke bawah karpet" alias jalan gampangnya saja, yang penting Jakarta nyaman tentram dan "enak di lihat", sambil tidak ambil pusing terhadap "akar" dari permasalahannya, dan tidak perduli akan "impact"nya terhadap golongan yang lemah.
Buat para pengamen, sukses bos!
salam
Ni'ang
radityo djadjoeri
Pak Semut di Qatar,
Adalah sah-sah saja orang mau ngamen. Aku melihatnya dari segi ekspresi seni budaya, bukan sekadar cari duit. Memang di Qatar mungkin tak ada pengamen, mungkin kebebasan berekspresi agak dibatasi? Aku kurang tahu kondisi disana, maaf. Mohon bisa cerita tentang Qatar, soalnya dulu ada yang pernah bertanya juga kpd Anda, tapi tak dijawab.
Di Singapura dan AS juga banyak kok orang ngamen......
Itulah yang namanya kebebasan berekspresi, bukan sekadar cari duit...
smut ireng
Salam Hormat.
Bung...,apa tidak sebaiknya anda melakukan kegiatan yang lebih produktif saja dan mengajak para generasi muda untuk bersikap realistis.Memang hak anda dan kawan-kawan untuk ngamen dijalan-jalan tapi ingat kami para pengguna jalan tersebut pun punya hak untuk menikmati perjalanan dengan nyaman dan "äman". Apa tidak sebaiknya anda mengajak para tenaga kerja produktif itu untuk bertransmigrasi,toh kita punya wilayah yang amat luas untruk digarap.
DPN SRMK
Panitia Penyelenggara
Kongres I Lingkar Pengamen Jakarta
Jl. Tebet Timur Dalam II D No. 10 Jakarta 11820
Telp : 021-8292842 / Email: lingkarpengamenjakarta@yaho...
Hentikan Penangkapan dan Pelarangan terhadap Pengamen !!
Ciptakan Lapangan kerja dengan Industrialisasi Nasional !!
Ayo, berpartisipasi dan sukseskan Kongres Kaum Pengamen!!
Kepada Kawan-kawan Pengamen di Jakarta...
Program Pemda DKI Jakarta yang melakukan penangkapan serta pelarangan terhadap para pengamen dan dibiarkan saja oleh Pemerintahan SBY-Kalla membuktikan bahwa janji-janji "Perubahan dan Kerakyatan" yang digembar-gemborkannya selama massa kampanye terbukti bohong. Dan ini merupakan penghianatan terhadap kepentingan rakyat.
Alasan Pemda DKI untuk membebaskan kota Jakarta dari Kriminalitas dan kekumuhan di terapkan dengan jalan melakukan penangkapan serta pelarangan terhadap para pengamen tanpa disertai jaminan solusi kesejahteraan dan alternatif yang lebih baik adalah kebijakan yang Anti rakyat, anti kemanusiaan dan biadab. Kebijakan ini wajib ditentang oleh seluruh pengamen. Kita kaum Pengamen hanya punya dua pilihan Melawan!! atau Tertindas!! Melawan adalah kita mempertahankan hak-hak hidup kita, hak-hak kesejahteraan yang seharusnya diberikan oleh pemerintah. Melawan dan untuk menang alatnya adalah bersatu. Diam adalah Tertindas, diam adalah kemiskinan, diam adalah kita tidak punya masa depan.
Seperti kita tahu menjamurnya pengamen disebabkan, pertama oleh ketidak mampuan dan ketidakseriusan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja dan karena kebijakan industrialisasi nasional yang tidak berpihak pada rakyat miskin dan malah berpihak pada kepentingan pemodal asing. Tanpa penyelesaian dengan penciptaan lapangan kerja melalui kebijakan industrialiasi besar-besaran yang pro rakyat, urbanisasi dan atau menjadi pengamen di kota-kota adalah hak yang syah dari rakyat untuk bertahan hidup.
Karenanya saudara-saudara, sudah jelas bagi kita bahwa penangkapan, pelarangan, kenaikan harga BBM dan kenaikan harga barang dan jasa adalah bencana bagi kita dan rakyat. Tak ada kata lain yang lebih tepat lagi, biar saja segala begundal dan anjing-anjing penguasa mengatakan bahwa penangkapan serta pelarangan adalah untuk menegakan hukum, kenaikan harga BBM adalah perlu untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Bagi kita sangat jelas penangkapan serta pelarangan terhadap pengamen adalah penindasan, kenaikan harga BBM, barang dan jasa adalah penindasan, di masa kini ataupun di masa depan. Jawaban kita terhadap penangkapan, pelarangan, kenaikan harga dan segala Peraturan yang menyengsarakan rakyat adalah bukan dengan caci maki, omelan, menggerutu. Jawaban kita adalah dengan bersatu membangun organisasi perjuangan!
Kenapa Kita harus memiliki wadah Perjuangan ?
Namun, kita, kaum pengamen, masih kalah satu langkah dari elit-elit penguasa yang menindas Rakyat. Para elit Penguasa bisa bersatu untuk menindas Rakyat. Para elit penguasa bisa membangun persatuan kekuatan Politik diantara mereka. Para Penguasa bisa dengan efektif memanfaatkan seluruh alat-alat politik (dengan Partai-partainya, menguasai PARLEMEN, Menguasai PEMERINTAHAN, Menguasai PENGADILAN, dll). Sebaliknya kenapa kita kaum pengamen yang disatukan kepentingannya karena sama-sama sebagai korban dari kekuasaan, belum bisa secara sungguh-sungguh, Tulus, dan sepenuh-penuhnya menyakini bahwa persatuan perjuangan menjadi kebutuhan kita yang tidak bisa ditunda-tunda lagi, bahwa Penyatuan seluruh kekuatan pengamen yang sadar adalah keharusan mendesak.
Atas dasar situasi tersebut diataslah Pada bulan Juli 2005 telah diadakan sebuah Pertemuan kaum pengamen se-Jakarta yang dihadiri oleh 20 orang pengamen. Mereka berdatangan dari beberapa kota di Jakarta (Jakarta Barat, Jakarta Utara, Ciledug) dalam pertemuan ini telah diputuskan untuk mendirikan organisasi perjuangan kaum pengamen yang bernama Lingkar Pengamen Jakarta (LPJ) dan merekomendasikan untuk mengadakan sebuah kongres kaum pengamen se-Jakarta. Dengan tujuan Mengkosepkan ulang sebuah organisasi perjuangan bersama yang bisa mewadahi semua pengamen di Jakarta.
Wadah perjuangan ini dibentuk sebagai alat perlawanan bagi Kaum Pengamen. Dilandasi oleh sebuah prisnsip yang sederhana, yang telah kawan-kawan semua ketahui, yaitu Persatuan. Persatuan dalam hal ini bukanlah sebuah seruan yang hanya diucapkan dimulut saja, tapi juga untuk dipraktekkan, dilakukan dalam setiap gerak organisasi. dari persatuan ini, solidaritas sesama Pengamen yang tertindas akan terbentuk dengan sendirinya
Sebuah organisasi perjuangan yang kuat membutuhkan keterlibatan dan peran serta seluruh anggotanya. Dalam organisasi perjuangan yang akan kita bentuk nanti, kita semua akan belajar bagaimana berorganisasi yang baik, bagaimana mengambil keputusan yang demokratis dan adil. Organisasi perjuangan yang akan kita bentuk ini bukanlah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang elitis, jauh dari massa. Dengan berdirinya organisasi perjuangan ini kami mempunyai cita-cita agar setiap pengamen dapat menjadi pemimpin dan aktif dalam setiap pengambilan keputusan dalam organisasi. Sehingga kita pengamen bisa memimpin negeri ini, suatu hari kelak.
Kami sadar bahwa kami tidak bisa berjuang tanpa dukungan seluruh kaum pengamen dan rakyat miskin di negeri ini. Untuk itu kami mengajak kawan-kawan pengamen untuk terlibat aktif, berpartisipasi dan bergabung dalam Kongres I Lingkar Pengamen Jakarta yang akan diselenggarakan pada 8 Januari 2006.
Bangkitlah Pengamen, Rebut Hak-hak mu !
Jakarta, 22 Desember 2005
Hermin Sihombing
Koord. Panitia
Contak Person :
0813.111.78146 (Hermin)
0815.8558.9611 (Nandar)
0815.8523.0686 (Zainal)
0813.16358923 (Ican)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar