Rabu, 22 April 2009

Potret Kaum Marginal dan Menengah Jakarta

Potret Kaum Marginal dan Menengah Jakarta
Tanggal : 02 Aug 2005
Sumber : Kompas

Prakarsa Rakyat, Hidup di kota Metropolitan Jakarta, bagi sebagian orang yang melihat dari luar, seperti sebuah kebanggaan, menikmati kehidupan yang penuh dengan glamour dan gegap gempita kota Metropolitan. Kenapa tidak, kemegahan di beberapa pusat jantung kota cukup membuat orang terbuai.

Kebanggaan hilir mudik di perkantoran Jalan Sudirman- Thamrin dan berlalu lalang di trotoar yang luas, namun kaku di sepenggal koridor jalan protokol mungkin memacu semangat kaum urban mewujudkan mimpi sebagai eksekutif muda.

Sepintas merasa bangga bisa menikmati megahnya kota Jakarta, walaupun mereka diapit oleh gedung-gedung tinggi menjulang yang sama sekali tak ramah kepada pengunjungnya.

Belum lagi daya tarik gemerlapnya pusat perbelanjaan, menikmati kerlap-kerlip pusat perbelanjaan dari kejauhan pun ternyata juga tak kalah membiusnya, dengan menonton barang-barang bermerek yang terpajang di etalase.

Namun, kenikmatan itu hanyalah sepenggal waktu dan jarak. Lepas dari kesibukan di jantung kota, penduduk Jakarta dihadapkan pada realita yang sesungguhnya yang akan terus ada tanpa peduli waktu.

Realita yang membuat warga kota terpaksa hidup dalam kesabaran tingkat tinggi. Kehidupan di gerbong kereta api ekonomi adalah salah satu potret realita penghuni kota Jakarta, tempat di mana kita bisa melihat ketabahan dari penglaju berjuang untuk sampai ke tempat aktivitasnya dan perjuangan gigih kaum marginal kota mencari penghidupan dalam rangkaian gerbong.

Angkutan massal yang murah namun cepat ini pada dasarnya adalah angkutan favorit bagi warga kota yang bukan hanya commuter sehingga hari libur pun gerbong tetap saja penuh dengan penumpang yang tetap tumpah sampai ke atap gerbong. Begitu sesaknya manusia dalam gerbong sehingga tidak mungkin untuk menuntut personal space di dalam kereta.

Personal space yang hilang tersebut masih dipaksa lagi dikorupsi oleh pedagang asongan, pengamen dan peminta-minta yang hilir mudik dalam hitungan detik. Ketidaknyamanan ternyata masih belum lengkap tanpa polusi suara penjaja dagangan asongan, pengamen serta peminta-minta yang berusaha menarik perhatian lewat pengeras suara yang speaker-nya terdengar cempreng. Dari perspektif penumpang, yang paling tersiksa dengan kondisi ini tentulah penumpang perempuan yang secara psikologis dan fisik mempunyai personal space yang membutuhkan keamanan.

Kreativitas

Mengamati kreativitas mereka dalam beradaptasi untuk mencari nafkah di dalam gerbong merupakan hal yang menarik perhatian tersendiri. Fleksibilitas dan aksesibilitas ternyata bukan hanya prinsip yang hanya dikenal oleh orang-orang terdidik. Tapi mereka pelaku ekonomi sektor informal, dengan peralatan dan sumber daya seadanya mampu membuat media aktivitas mereka aksesibel untuk pindah dari satu gerbong ke gerbong lain.

Penjual aksesori wanita, misalnya, menggelar barang dagangannyanya yang terbungkus dalam plastik kecil dan menjejerkannya pada selembar karton yang bagian atasnya diperkuat oleh sebatang kayu horizontal yang panjangnya tak lebih dari 70 cm. Kayu ini di tengahnya dipasang seutas tali berpengait sehingga dapat digantung ketika memamerkan barang-barangnya di hadapan penumpang atau ketika mereka ingin istirahat menenteng barang dagangannya.

Lain pula dengan penjaja makanan, seperti penjaja tahu dan buah-buahan, yang melengkapi keranjangnya dengan roda dan tali penarik atau tuas untuk mendorong keranjang. Beda aktivitas beda pula kreativitas yang mereka ciptakan.

Pengamen yang membentuk sebuah kelompok band adalah yang paling kreatif dalam memodifikasi peralatan musiknya. Drum yang dibuat manual dilengkapi dengan kaki yang disulap dari kaki kursi putar bekas. Kaum defable peminta-minta pun tak kalah kreatif, melengkapi dirinya dengan bangku beroda sehingga secara fisik mereka tidak perlu mengesot di lantai gerbong

Memerhatikan aktivitas kaum marginal di kereta api kadang menggelitik hati dan membingungkan, antara tertawa, sedih atau bahkan kesal.

Tetapi itulah kehidupan di gerbong kereta api, di satu sisi memperlihatkan gigihnya perjuangan kaum menengah kota dalam menggapai impian dan di sisi lain mempertontonkan aktivitas marginal penghuni kota layaknya sebuah pasar berjalan.

Elvi Efrini AS, Arsitek

Tidak ada komentar: